Pernah nggak sih, refleks pertama pas lihat anak megang HP terus-terusan itu langsung pengen sita, marahin, atau diam-diam ngecek isi chat-nya? Wajar banget, tapi menurut para pakar, cara itu justru bukan solusi jangka panjang yang paling efektif.
Belakangan ini, isu pola asuh di era digital makin ramai dibahas, dan ada satu pergeseran cara pandang yang menarik: orang tua didorong buat jadi digital mentor, bukan sekadar digital police alias "polisi siber" di rumah sendiri.
Pakar psikologi Primatia menjelaskan, pendekatan mendampingi jauh lebih efektif ketimbang cuma mengawasi atau melarang. Anak perlu diajarkan memahami manfaat sekaligus risiko dunia digital, mulai dari kecanduan gawai sampai perundungan siber (cyberbullying), bukan cuma dilarang tanpa penjelasan. Riset-riset menunjukkan, pola asuh yang penuh kehangatan tapi tetap punya batasan jelas justru lebih efektif bikin anak bisa mengelola emosi, percaya diri, dan pintar menyelesaikan masalah sendiri.

Salah satu kunci yang disarankan adalah active listening, alias dengerin dulu cerita anak sampai selesai sebelum kasih nasihat, sekaligus validasi perasaan mereka. Kedengarannya sepele, tapi ini penting: ngasih ruang buat anak ngomong bukan berarti wibawa orang tua jadi luntur, malah bikin hubungan makin dekat, dan anak jadi lebih nyaman cerita kalau ada masalah, ketimbang mendem sendiri atau nyari validasi dari tempat yang salah.
Isu ini makin serius kalau ngelihat data: Indonesia tercatat ada di peringkat keempat dunia untuk kasus pornografi anak secara daring. Angka ini jadi alarm keras kalau perlindungan anak di dunia digital memang harus dimulai dari rumah, bukan cuma mengandalkan aplikasi parental control atau aturan sekolah.
Untuk itu, KPAI mendorong penerapan prinsip 3S sebagai panduan praktis buat keluarga: Screen Time (batasi durasi pemakaian gawai), Screen Break (kasih jeda dari aktivitas digital), dan Screen Zone (tetapkan area bebas gawai di rumah, misal meja makan atau kamar tidur). Tiga prinsip ini bukan soal melarang total, tapi bikin anak tetap yang pegang kendali atas teknologi, bukan sebaliknya.
Satu hal lagi yang sering luput dari perhatian orang tua sendiri: soal sharenting, alias kebiasaan bagi-bagi foto atau video anak di media sosial. Sebelum posting, ada baiknya orang tua mikir dua kali soal privasi dan jejak digital anak yang bakal terus ada sampai mereka dewasa nanti.
Intinya, ngasuh anak di era digital bukan soal siapa yang menang, orang tua atau gawai. Ini soal gimana orang tua bisa hadir sebagai teman diskusi yang dipercaya, bukan cuma "penjaga gerbang" yang selalu curiga. Karena pada akhirnya, anak yang paham risiko lewat pendampingan biasanya jauh lebih siap ketimbang anak yang cuma dilarang tanpa penjelasan.


Belum ada komentar yang ditayangkan.