Rabu, 26 Agustus 2026 · WIBE-Paper   Live TV   Podcast   Newsletter
BREAKING
Skema Pengamanan dan Rekayasa Lalu Lintas di Sekitar Arena Muktamar NU ke-35 ◆ Panduan Lengkap Muktamar NU ke-35: 5 Hal yang Wajib Diketahui ◆ Mengapa Jombang? Nilai Historis di Balik Terpilihnya Tuan Rumah Muktamar NU 2026 ◆ Geliat Ekonomi Warga: Berkah Muktamar NU bagi UMKM Jombang ◆ Ramai Seruan Boikot Bank Mandiri, Simak Kronologinya!
NASIONAL

Mengapa Jombang? Nilai Historis di Balik Terpilihnya Tuan Rumah Muktamar NU 2026

PBNU menetapkan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU karena nilai historisnya sebagai akar berdirinya NU, tempat lahir dan besarnya KH Abdul Wahab Chasbullah. Ini jadi kali kedua Jombang menjadi tuan rumah setelah Muktamar ke-33 pada 2015.

Maulida Syifa Ar Rifhani · 26 Agustus 2026, 07:55 WIB · Diperbarui 26 Agustus 2026, 17:34 WIB · 48 dibaca
Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur
— Foto: jatim.tribunnews.com

Dari sembilan pesantren yang disurvei di lima provinsi, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya menjatuhkan pilihan pada Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU. Keputusan ini disahkan dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU di Jakarta, Selasa (7/7/2026). Tapi kenapa harus Tambakberas, bukan pesantren lain?

Jawabannya ternyata bukan soal fasilitas atau kapasitas semata, melainkan soal akar sejarah. Ketua Steering Committee Muktamar Ke-35 NU, KH Ahmad Said Asrori, menjelaskan bahwa pemilihan Tambakberas didasarkan pada pertimbangan historis mendalam sebagai akar berdirinya jam'iyah NU itu sendiri.

Pondok Pesantren Bahrul Ulum siap menyambut Muktamar NU ke-35
Foto: tambakberas.com

Rumah Sang Pendiri

Pesantren yang lebih dikenal masyarakat sebagai Pesantren Tambakberas ini punya sejarah panjang, bermula sejak 1825, bertepatan dengan masa pecahnya Perang Diponegoro. Yang membuat pesantren ini istimewa di mata NU adalah sosok yang lahir dan besar di sana, yaitu KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU sekaligus Rais Aam PBNU kedua.

Dari Tambakberas inilah, Kiai Wahab mengembangkan gagasan-gagasan pembaruan yang akhirnya mewarnai perjalanan NU, mulai dari merintis sistem pendidikan madrasah modern, mendirikan berbagai organisasi pergerakan, sampai menggagas Komite Hijaz, yang jadi salah satu tonggak penting lahirnya NU pada 1926.

Kabupaten Jombang secara keseluruhan memang memiliki nilai historis yang kuat untuk NU, bahkan kerap disebut sebagai episentrum kelahiran organisasi ini. Di Jombang, tersebar makam para pendiri NU, mulai dari Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari di Tebuireng, KH Bisri Syansuri di Denanyar, hingga KH Abdul Wahab Hasbullah sendiri di Tambakberas.

Bukan Kali Pertama

Penunjukan Tambakberas kali ini sebenarnya bukan yang pertama. Jombang sebelumnya juga pernah dipercaya jadi tuan rumah Muktamar Ke-33 NU pada 2015, yang saat itu mencatat sejarah tersendiri karena jadi kali pertama diterapkannya mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam. Artinya, penunjukan tahun ini menandai kembalinya hajatan besar NU ke Jombang setelah 11 tahun berselang.

Ketua Organizing Committee Muktamar Ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menyebut pengalaman menjadi tuan rumah pada 2015 jadi modal penting dalam mempersiapkan penyelenggaraan tahun ini. Bekal pengalaman tersebut diharapkan membuat proses persiapan, mulai dari akomodasi sampai pengamanan, dapat berjalan lebih matang dibanding sebelumnya.

Lebih dari Sekadar Lokasi

Penetapan Tambakberas sebagai tuan rumah tidak hanya perihal kepraktisan logistik semata. PBNU secara eksplisit menyebut langkah ini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para masyayikh atau ulama pendiri NU, sekaligus pengingat bagi seluruh warga Nahdliyin untuk kembali meneladani semangat dan sejarah panjang organisasi mereka.

Dengan kata lain, memilih Tambakberas sebagai panggung Muktamar ke-35 sama saja dengan membawa pulang forum tertinggi NU ini ke tempat di mana cita-cita besar organisasi pertama kali ditanam. Sebuah simbolisme yang kuat, di tengah momen penting penentuan arah kepemimpinan NU untuk lima tahun mendatang.

Komentar Pembaca (0)

Komentar dimoderasi. Hindari fitnah, ujaran kebencian, data pribadi, dan materi melanggar hukum.

Belum ada komentar yang ditayangkan.

BERITA TERKAIT